Kegiatan

Pelatihan Higienitas PSAT

Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) adalah pangan asal tumbuhan yang belum mengalami pengolahan dapat dikonsumsi secara langsung, diolah secara minimal, dan/atau dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan.Ini adalah upaya pemerintah untuk menyediakan pangan yang bermutu, aman, sehat, dan layak konsumsi. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51 Tahun 2018 tentang Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).

Peningkatan daya saing produk pertanian dapat dilakukan melalui mekanisme penjaminan mutu dan keamanan pangan. Bentuk jaminan mutu produk hasil pertanian adalah sertifikat jaminan mutu dan atau label yang menyatakan kesesuaian produk terhadap standar atau persyaratan teknis minimal lain yang diacu. Penerapan jaminan mutu merupakan langkah penting bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pengakuan formal terkait dengan jaminan mutu yang diwujudkan dalam bentuk sertifikat. Sertifikat menjadi alat bukti penerapan sistem manajemen mutu dan dapat menjadi jaminan keberterimaan pangan baik di pasar domestik maupun internasional.

Untuk mendapatkan sertifikasi PSAT, petani dan kelompok tani wajib ikut atau menyelenggarakan pelatihan tentang PSAT ini. Salah satunya adalah pelatihan tentang higienitas proses pengolahan pangan, seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Petani dan Pedagang Organik Boyolali (APPOLI). Pada pelatihan ini JakerPO memberikan materi tentang pemahaman, prinsip dasar dan penerapan higienitas dalam pengolahan pangan. Higienitas dimulai dari para pengolah pangan (13/01/2020). Kesadaran dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip suci hama ini sangat penting sebab proses pengolahan pangan tidak selalu diawasi oleh institusi pengawas kesehatan pangan.

Yang kedua adalah tata letak dari tempat produksi dan penyimpanan pangan, dimana ada aturan-aturan yang harus dipatuhi agar ruang atau rumah produksi bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya, serangga, dan zat-zat lain yang dapat mempengaruhi kualitas pangan yang dihasilkan. Prinsip perilaku hidup bersih dan sehat juga berlaku di tempat produksi, termasuk keselamatan kerja pelakunya.

 

 --key--

tulis komen anda disini 

Konsorsium Beras Ngawi

Pada pertemuan multipihak yang melibatkan unsur petani, pengusaha, pemerintah, NGO dan akademisi Desember 2019, dibentuklah wadah komunikasi awal berupa media sosial grup whatsapp yang sementara hanya melibatkan unsur petani, dinas pertanian dan JakerPO.

          Proses kumunikasi berjalan dengan muatan saling memberi informasi, diskusi dan merencanakan agenda kegiatan bersama sebagai bentuk keseriusan untuk mengawal pemasaran bersama dan kerjasama petani dengan sektor swasta. Selain itu juga ingin mendorong pemerintah dan sektor swasta dalam memformulasikan bentuk aturan hukum yang dapat melindungi petani terkait dengan hasil panen yang diperoleh.

          Keinginan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan pada 29 Januari 2020 bertempat di Rumah Teh Raja kompleks alun-alun kota Ngawi. Pertemuan ini diawali dengan ekplorasi persoalan kerjasama yang selama ini dirasakan oleh petani. Berbagai hambatan dan pengalaman keberhasilan dalam pemasaran dituangkan dalam curah pendapat dan kemudian disimpulkan untuk mencari solusi terbaik serta ditindaklanjuti dengan rangkaian kegiatan bersama yang didukung oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi.

          Proses panjang diskusi menghasilkan rumusan berupa dibentuknya Konsorsium Beras Ngawi. Pembentukan konsorsium tersebut sementara memilih pengurus yang terdiri dari pelindung, penasehat, ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa bidang. Pengurus sementara ini akan intensif berkomunikasi melalui media sosial untuk menyiapkan kelengkapan organisasi dan penjadwalan untuk melakukan pertemuan-pertemuan lanjutan.

Disepakati juga bahwa dalam konsorsium ini akan membagi peran sebagai berikut :

1.    Pengurus dalam konsorsium bertugas lebih pada penyiapan dan pengelolaan produksi padi serta proses pemasaran ke titik-titik yang diangap potensial.

2.    Dinas berperan lebih pada memberi arahan dan komunikasi horisontal dengan lintas sektor di pemerintahan serta komunikasi vertikal dengan pemegang kebijakan struktural dalam pemerintahan.

3.    JakerPO lebih kepada memberi dampingan dan konsultasi dalam proses berjalannya konsorsium.

Peran ini bersifat kondisional, artinya akan berubah seiring dengan kondisi dan kebutuhan konsorsium. Rumusan dan kelengkapan organisasi akan dibahas pada pertemuan berikutnya bersamaan dengan agenda pengumpulan data pasti produksi dari setiap petani atau kelompok tani yang sudah masuk dalam daftar konsorsium.

 

 

 

 

-key-

Diskusi Petani, Pemerintah dan Swasta

Bertempat di rumah makan Notosuman Ngawi Jawa Timur (19/12/2019) sejumlah komunitas dan kelompok tani organik Kabupaten Ngawi berdiskusi tentang bisnis komoditas organik utamanya beras bersama pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi dan lembaga kemasyarakatan. Pada acara ini Dinas Pertanian Ngawi menyampaikan tentang perkembangan pertanian organik Ngawi selama kurun waktu 10 tahun terakhir dan daya dukung yang dilakukan dinas terhadap aktivitas ramah lingkungan ini.             

Presentasi dinas diperkuat secara akademis oleh paparan Prof. DR.Ir. Suntoro, MS yang sudah sejak lama sudah melakukan upaya bersama membangun pertanian organik yang bukan hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan dan nilai ekonomis petani saja, tetapi juga bagaimana pertanian ini memberikan kontribusi positif terhadap seisi dunia. Bisnis yang dipaparkan oleh profesor ahli ilmu tanah ini mengacu pada 8 perilaku Nabi Muhammad, yaitu 1. Berpendirian teguh, 2. Memiliki semangat kerja yang  tinggi, 3. Jujur, 4. Menjunjung tinggi amanah yang diberikan orang lain, 5. Menghadapi semua rintangan dalam perjalanan, 6. Menyamakan pelayanan kepada pembeli, 7. Percaya diri, 8. Bersikap ramah dan sopan.

Hadir pula narasumber dari sektor swasta yaitu Adi, dari PT Agri Boga Mas yang menyampaikan bagaimana cara menjalin hubungan bisnis antara petani atau kelompok dengan perusahaan. Inti yang disampaikan sama dengan hal-hal yang disampaikan oleh Profesor Suntoro, dimana nilai-nilai yang harus dibangun adalah bagaimana kesetaraan dan kejujuran untuk keberlanjutan bersama, sebab semua pihak pasti akan saling membutuhkan.

Nilai-nilai yang dibangun oleh narasumber sebelumnya diperkuat pada sesi narasumber ketiga yaitu Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) yang sudah membangun bisnis padi organik sejak tahun 2012. Sebagai penanggungjawab APPOLI, Hendro selalu menanamkan kepada anggota APPOLI bahwasannya membangun bisnis jangan hanya berorientasi pada tujuan komersil semata, tetapi juga harus membangun sisi sosial yang nilainya sangat luar biasa dan tidak pernah bisa diprediksi, sebab dampak aktivitas sosial merupakan balasan yang Maha Kuasa kepada umat manusia.               

Disesi terakhir forum menyepakati untuk melanjutkan komunikasi ini untuk membangun komunikasi dan kerjasama untuk membangun pertanian organik kabupaten Ngawi maupun membangun bisnis bersama yang berlandaskan pada unsur-unsur yang menghormati hak azazi manusia.

-key-